konten 1
konten 2
konten 3

Tuesday, 12 June 2012

Liburan, Batik Solo Untung Tiga Kali Lipat

VIVAnews - Musim liburan menjadi berkah bagi pengrajin dan pengusaha batik di Solo. Pasalnya, batik Solo menjadi incaran oleh-oleh para wisatawan yang tengah mengisi liburan panjang di Kota Bengawan ini. Walhasil, omset penjualan batik pun meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.

Salah seorang pemilik toko batik Putra Laweyan di Kampoeng Batik Laweyan Solo, Gunawan Nizar mengakui selama musim liburan ini banyak sekali para pengunjung maupun wisatawan yang membeli batik di tokonya.

"Sekarang ini yang membeli sebagian besar adalah pengunjung dari luar kota. Tetapi, kalau Minggu lalu ketika ada konferensi tingkat menteri perumahan se Asia Pasifik adalah para rombongan delegasi," kata dia kepada VIVAnews di Solo, Minggu, 04 Juli 2010.

Para pengunjung yang membeli batik disebutkan dia berasal dari Jakarta, Bandung dan kota lainnya. Mereka merupakan rombongan keluarga yang sedang berwisata ke Solo.

"Ya, selain bermain ke Solo. Mereka juga membeli batik, sebagian besar sih pakain batik. Maka tidak heran, jika lonjakan omset penjualan batik mencapai tiga kali lipat," tuturnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Solo, Gunawan Setiawan. Menurutnya, kenaikan omzet penjualan maupun pengunjung sangat terlihat selama musim liburan ini.

"Mereka tak hanya belanja batik, tapi juga belajar membatik. Dan setiap hari yang belajar membatik pasti ada, minimal satu rombongan," terang dia.

Lonjakan penjualan batik tidak hanya terjadi di kawasan kampung-kampung batik yang ada di Solo. Namun, juga terlihat merata di pusat-pusat perbelanjaan dan pasar tradisional.

"Di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), penjualan batik juga meningkat. Ini berdasarkan informasi dari teman-teman pedagang batik. Selain itu, di stan-stan pameran batik juga terlihat ramai," papar pemilik toko batik Gunawan Setiawan ini.

Selanjutnya dia mengatakan kalau saat ini batik telah menjadi oleh-oleh khas Solo maka tidak heran jika pengunjung maupun wisatawan jika berkunjung ke Solo dipastikan akan memburu batik Solo.
"Banyak sekali pengunjung dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan bahkan Yogyakarta yang memborong batik Solo," akunya. (hs)

Laporan: Fajar Sodiq | Solo

Sumber:  http://nasional.vivanews.com/news/read/162174-liburan--batik-solo-untung-tiga-kali-lipat

Pasar Tanah Abang Banjir Diskon

JAKARTA, SENIN — Blok A Pasar Tanah Abang banjir diskon alias potongan harga pada Senin (29/9) ini. Pasalnya, sebagian besar pedagang memilih hari ini sebagai hari terakhir untuk berjualan meski pusat grosir ini resmi tutup pada 1-5 Oktober 2008.
Udo (33), pedagang pakaian di Tanah Abang, mengatakan,fenomena banjir diskon selalu menghiasi jelang Lebaran di sana. "Sebab, kita kan tutup besok Mbak Ini hari terakhir. Kalau masalah untung-rugi, ya tetap untung," ujarnya, Senin (29/9).
Hal yang sama juga diungkapkan Denny dan Angel. Dua penjual pakaian batik itu berniat menutup tokonya sore ini, sebab besok mereka akan mudik ke Manado. Mengenai harga spesial yang diberikan, Angel mengaku rela memotong sedikit keuntungan untuk menghabiskan stok tahun ini.
Sementara Denny, lebih mengakali harga dari kualitas barang yang dijual. "Kalau biasanya di toko itu jual barang dengan kualitas bagus, sekarang untuk jual obralan arangnya jadi kualitas sedang," ungkapnya.
Menurut pantauan di lapangan, sejumlah pedagang menawarkan harga yang tak jauh berbeda dengan harga di hari biasa. Sebuah kaos wanita kualitas sedang, yang biasa dijual dengan harga Rp35.000 per buah dijual dengan harga Rp100.000 per tiga potong.

Sumber:  http://nasional.kompas.com/read/2008/09/29/13553274/tanah.abang.banjir.diskon

Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen Setelah 274 Tahun

MENJELANG hari raya Lebaran, bahkan jauh hari sebelumnya, seperti tahun yang sudah-sudah, pasar ini akan diserbu warga Jakarta dan sekitarnya. Tak sedikit pula warga dari luar Jakarta, bahkan dari luar Jawa yang memborong pakaian dari sini untuk kemudian dijual di daerah mereka. Sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, pasar ini kini menjadi pusat grosir tekstil, pakaian jadi, dan batik produksi dalam negeri. Pasar itu tak lain adalah Pasar Tanah Abang.

Sangat boleh jadi tak ada yang menyadari bahwa di bulan Agustus ini pasar tersebut genap berusia 274 tahun. Adalah Justinus Vinck, tuan tanah yang pada 1733 membeli Tanah Abang dan membuat pasar di sana. Sebenarnya, Vinck tak hanya mendirikan pasar di Tanah Abang tapi juga di tanahnya yang lain, Senen, secara bersamaan pada 1735. Vinck juga membuka jalan untuk menghubungkan kedua pasar ini, yaitu Jalan Prapatan  dan Kampung Lima (Jalan Wahid Hasyim).

Pasar di Weltevreden (Senen) semula hanya diizinkan buka pada hari Senin saja sedang untuk Tanah Abang hari Sabtu.  Pada 1751, izin buka Tanah Abang ditambah hari Rabu sedangkan Pasar Senen hari Jumat. Pedagang di kedua pasar menjajakan dagangan di bangunan bambu beratap rumbia.

Dalam perjalanannya, kedua pasar ini bernasib hampir sama, hangus oleh api. Hanya saja, penyebabnya berbeda. Pasar Tanah Abang jadi korban kerusuhan 1740 - di mana orang China dibantai. Pasar ini kemudian dirusak dan dibakar. Sementara itu Pasar Senen, di masa kini pasar itu ada di pinggir Jalan Senen Raya, dilalap api pada 1826.

Pasar Tanah Abang kemudian dibangun kembali karena kawasan ini sangat menjanjikan untuk perekonomian. Orang Tionghoa membuka berbagai perkebunan di sini, seperti kebun jahe, kebun sirih, kebun kacang, dll. Pabrik arak pun berkembang di sini. Di Pasar Tanah Abang inilah pasar kambing juga berada dan menjadi salah satu ciri khas kawasan ini.

Sekian ratus tahun kemudian Pasar Senen, beserta kawasan di sekitarnya pernah berkembang tak hanya dari sisi ekonomi tapi juga hiburan - khususnya dengan berdirinya Proyek Senen. Perlahan kilau pasar dan kawasan ini meredup  seiring dengan citra premanisme yang makin melekat. Di tahun ke 274, Pasar Senen  tak lagi bergigi, sementara Pasar Tanah Abang tetap perkasa - keberangasan kawasan Tanah Abang tak mampu menaklukkan pasar tekstil itu.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sumber: http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2009/09/01/09162045/Pasar.Tanah.Abang.dan.Pasar.Senen.Setelah.274.Tahun

Batik Gradasi Warna Jadi Tren Jelang Ramadhan

PEKALONGAN, KOMPAS.com - Tren pakaian batik dengan desain warna gradasi, telah disiapkan perajin batik dan produk batik di Pekalongan. Mereka mulai menambah stok produksi sampai 10 persen, guna kesiapan perajin menjelang bulan puasa Ramadhan dan hari raya Lebaran 2009.
Perajin produk batik yang membuka kios di Pasar Grosir Batik Setono, Pekalongan, Nurhayati, Minggu (2/8) mengemukakan, perajin optimis mereka akan memetik keuntungan seiring puasa Ramadhan dan hari raya Lebaran, September mendatang.
"Kalau hari biasanya kami produksi 10 kodi per hari, kebanyakan menghadapi hari besar itu produksi ditambah. Penambahan produksi untuk antisipasi permintaan pasar, baik di grosir maupun pesanan dari rekanan pedagang luar kota," kata Nurhayati.
Pengelola Pasar Grosir Batik Setono, Baehaqi mengutarakan, Setono sejak 2002 telah menjadi pasar grosir batik besar di pantura Jawa. Sebagai pusat perdagangan perajin batik, omzet rata-rata pedagang yang membuka usaha di grosir ini antara Rp 250.000 hingga Rp 400.000 per hari. Saat ini sudah ada 280 kios untuk perdagangan batik dan produk batik, juga produk dari perajin alat tenun bukan mesin (ATBM).
Wakil Sekretaris Ikatan Pedagang Pasar Setono Pekalongan, Chofif Yahya mengatakan, pada hari raya besar umat muslim itu diharapkan bisa mendongkrak penjualan produk batik sampai 35 persen. Perajin batik di Pekalongan siap membanjiri pasar-pasar potensial di kota-kota besar dan kecil di Indonesia.

Sumber:  http://nasional.kompas.com/read/2009/08/02/16583886/function.simplexml-load-file

Trend Batik

BATIK tengah berada di puncak tren fashion Tanah Air. Di mana-mana orang ”mendadak batik”. Batik yang dulu identik dengan acara resmi dan digunakan orangtua kini mengalami revolusi.

Tidak aneh lagi menyaksikan anak muda berbatik ria, seperti ke kampus atau jalan-jalan ke mal. Aneka desain baju batik dilahirkan dan populer, seperti baby doll, balon, dan kerut. Namun, sampai kapan fenomena ini akan berlangsung?

Tren batik didorong berbagai faktor. Salah satunya, peran perancang busana yang memunculkan tren batik. Edward Hutabarat, yang dinilai sebagai pelopor batik ready to wear, tahun 2006 mengeluarkan rancangan model A line, jaket panjang longgar, blus halter neck, jaket bergaya kimono, dan celana pendek yang ternyata disambut antusias masyarakat.

Lidwina CH (22) misalnya. Ia baru saja membeli busana batik pertamanya yang bermotif klasik Yogyakarta. ”Batik kan lagi tren. Pilihannya banyak, modelnya juga lucu-lucu,” ujar mahasiswi asal Bekasi ini di Pasar Tanah Abang, Selasa (9/9).

Booming batik juga didorong oleh kebijakan pemerintah daerah dan instansi swasta yang mewajibkan pegawainya mengenakan batik sehari dalam sepekan, belum lagi klaim Malaysia atas batik, yang tampaknya meningkatkan minat orang berbatik.

Gairah pasar

Tren busana batik membuat transaksi batik bergairah. Secara nasional nilai produksi batik terus meningkat, terutama sejak tahun 2004. Berdasarkan data Direktorat Industri Sandang, Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah, Departemen Perindustrian, tahun 2006 nilai produksi batik Rp 2,9 triliun. Pada tahun 2007 produksi meningkat menjadi Rp 3,045 triliun.

Bergairahnya perdagangan batik bisa dilihat di Pasar Tanah Abang, Jakarta, pusat garmen dan tekstil terbesar di Indonesia. Menurut Asisten Manajer Operasi PD Pasar Jaya Area 1 Tanah Abang M Yusuf, dari 12.000 tempat usaha di Tanah Abang, 30 persen menyediakan busana dan kain batik. Omzet penjualan tiap pedagang diperkirakan Rp 7,5 juta-Rp 10 juta per hari. ”Tren batik membuat banyak pedagang yang awalnya tidak berjualan batik jadi menyediakan batik,” kata Yusuf.

Pernyataan Yusuf diamini Hasan Basri, pengusaha busana yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta. ”Batik kini menjadi andalan banyak pedagang dalam berjualan karena permintaan masyarakat yang tinggi sehingga omzetnya meningkat,” katanya.

Sebagai contoh, peningkatan omzet dialami pasangan Finaldi dan Afrida yang mempunyai lima toko batik di Pasar Tanah Abang Blok A. ”Satu kios yang semula beromzet Rp 1 juta per hari setelah tren batik bisa naik 10 bahkan 15 kali lipat,” kata Finaldi yang mendapat kiriman kain batik dari Pekalongan.

Hal serupa dialami Mustofa Syahab dari batik Alhadi di Tanah Abang. Tahun ini penjualan batiknya meningkat hingga delapan kali lipat dari tahun sebelumnya. Rata-rata per hari ia bisa menjual tiga bal kain batik. Satu bal terdiri dari 15 kodi dan satu kodi berisi 20 potong.

Menurut Hasan Basri, konsumen menyukai batik dengan motif dari Pekalongan, Solo, Yogyakarta, dan Cirebon yang dikemas menjadi berbagai macam busana. Mulai dari busana Muslim sampai pakaian sehari-hari. ”Pembeli batik di Tanah Abang datang dari seluruh Indonesia. Bahkan, ada yang dari luar negeri,” kata Hasan.

Afrida mengatakan, secara rutin ia mengirim batik ke Singapura, Malaysia, dan Filipina. Sebagian batik yang dijual berasal dari Pekalongan karena harganya relatif murah, motif beragam dengan corak warna cerah yang disukai konsumen domestik maupun luar negeri.

Di Yogyakarta, desainer Mirota Batik, Yoyonk Genji, mengatakan, booming batik terlihat dari peningkatan penjualan busana batik. Penjualan tahun 2008 melonjak hingga 100 persen dibanding 2007. Menjelang Lebaran ini angka penjualan meningkat lagi 30 persen. Di Yogyakarta setiap tahun diadakan promosi batik, di antaranya melalui pergelaran busana Jogja Fashion Week.

Pengusaha batik di Pekalongan, Rusdianto, mengungkapkan, ia memasok baju batik untuk tiga toko di Pasar Tanah Abang dan satu toko di ITC Cempaka Mas, masing-masing 100 kodi per bulan. Ini meningkat 50 persen dibanding tahun sebelumnya.

Mempertahankan tren

Untuk menyiasati tren fashion yang cepat turun, perajin dan pengusaha batik melakukan berbagai cara untuk mempertahankan. Batik Alhadi, misalnya, menyebarkan model rancangan baju melalui ribuan brosur dan internet.

Finaldi dan Afrida merancang sendiri model baju batik yang mereka jual agar berbeda dengan produk pesaing. Mirota Batik juga demikian. ”Menjelang Lebaran kami meluncurkan batik yang dikombinasi dengan kain jeans. Tanggapan masyarakat cukup bagus,” tutur Yoyonk.

Perancang busana Afif Syakur menuturkan, tren batik yang sedang terbang tinggi mengangkasa bukan tidak mungkin menukik kembali ke bawah. ”Tren itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Pekerjaan rumah terbesar adalah menjaga tren ini agar tidak berlangsung sesaat,” ujar Afif yang juga Ketua III Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ”Sekar Jagad”.

Masukan datang dari Mawarzi Idris, anggota Yayasan Batik Indonesia. Menurut dia, kreativitas dan inovasi harus terus dilakukan mulai dari bahan, desain, sampai motif batik. ”Kekuatan batik Indonesia ada pada motifnya yang indah dan beragam. Mengawinkan motif dari berbagai daerah akan semakin memperkaya motif yang ada. Kreator dalam negeri sudah sangat luar biasa. Tinggal bagaimana mempromosikan,” katanya.

Kuncinya terletak pada konsistensi dan komitmen seluruh pihak mengembangkan batik yang seiring dinamika zaman.

(Adi Sucipto/Erwin Edhi Prasetya/Sri Rejeki)

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/09/29/15500337/tren.batik.sampai.kapan

Belanja Batik Saat Mudik Lebaran

BEBERAPA pekan menjelang Lebaran, Pusat Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC) di Kota Solo, Jawa Tengah, yang umumnya menjual batik diserbu masyakarat. Dari pagi hingga petang, ratusan bahkan ribuan pengunjung memadati pusat perbelanjaan di Kota Solo ini. Pakaian batik dalam berbagai pilihan dan harga menjadi sasaran masyarakat.
Dari pengamatan Kompas, hingga Senin (29/9) pengunjung yang menggunakan mobil maupun sepeda yang memasuki PGS dan BTC lebih banyak dibanding hari biasa. Bahkan tempat parkir PGS pun sampai di lantai paling atas terpakai. Sebuah lahan kosong di seberang PGS digunakan sebagai tempat parkir.
Menurut Manager Operasional PGS Bonifatius Cahyo, dibanding tahun sebelumnya, pengunjung PGS tahun 2008 mulai meningkat pada H-21. Tahun sebelumnya, pengunjung sudah mulai memadati PGS pada awal puasa.  “Puncaknya kunjungan diperkirakan terjadi pada di H-1 dan H+1,” paparnya.
Beberapa penjual batik di PGS dan BTC yang ditemui, Senin (29/9) petang, mengakui, dalam minggu terakhir ini pengunjung yang datang berbelanja meningkat tajam. Walau pembelian dalam bentuk eceran, tetapi jumlah pembeli yang datang barang yang dibeli cukup banyak.
“Selama beberapa hari ini, banyak dari luar kota yang mampir belanja ke sini. Umumnya belanja untuk persiapan Lebaran,” ujar salah seorang penjual batik di PGS.
Pasokan batik pun tiap hari terus mengalir, terutama ke PGS. Tidak hanya batik produksi Solo saja yang memenuhi PGS. Batik-batik dari Pekalongan juga banyak dijual di tempat ini. Bahkan batik Pekalongan banyak dibeli orang, karena motif dan warnanya yang lebih berani.
Banyaknya pengunjung yang datang mencari batik, membuat penjual batik di BTC rela membuka kiosnya hingga pukul 21.00 malam. Berjualan hingga malam hari ini dilakukan sejak pekan lalu. Umumnya penjual batik memajang dagangannya di depan pintu gerbang BTC.
“Teman-teman mulai jualan malam sejak minggu lalu, tetapi saya sejak awal Oktober sudah berjualan sampai jam 21.00. Banyak yang datang, apalagi kalau malam minggu,” ujar Naya, pemilik Toko Murah Batik Ayu yang berjualan di BTC.

Sumber:  http://nasional.kompas.com/read/2008/09/29/21260825/belanjalah.batik.saat.mudik.lebaran

Batik Tulis Nita Azhar




Oleh: AGUNG SETYAHADI
Senyum selalu merekah di bibir Nita Azhar setiap kali bertemu orang lain. Tegur sapanya ramah menebar kehangatan, tatap matanya teduh. Sikap lembut itu membungkus tekadnya melestarikan tradisi batik tulis yang tertuang dalam setiap busana rancangannya.
Busana batik rancangan Nita telah menembus dunia. Tiga di antaranya dikenakan kontestan Miss Universe dari Puerto Riko (2001), Rusia (2002), dan Republik Dominika (2003).
Menjadi perancang busana sebenarnya jauh di luar angan Nita yang lebih akrab dengan dunia teater sejak kecil. Kariernya di dunia teater mencapai puncak saat dia memerankan Ratu Dara, tokoh utama dalam naskah Panembahan Reso karya WS Rendra. Cerita berdurasi delapan jam itu dipentaskan pada tahun 1986 di Senayan, Jakarta, selama tiga malam berturut-turut.
”Waktu itu saya masih menyusui anak pertama, Surya Gumilang (sekarang berusia 23 tahun). Jadinya di sela-sela pentas, saya berusaha menyusui anak saya. Pentas itu memang melelahkan, tetapi saya puas,” ucap istri dari Albert A Razak ini.
Keterkaitan Nita dalam jagat mode bisa dikatakan dimulai ketika ia mengikuti lomba desain busana yang diselenggarakan Perhimpunan Ahli Perancang Mode Indonesia (PAPMI) DI Yogyakarta-Jawa Tengah. Di luar dugaan, desain bertema batik jumputan buatannya itu terpilih menjadi yang terbaik.
Setelah itu, Nita sering diajak mengikuti peragaan busana oleh para desainer senior yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
”Kebetulan desain baju-baju saya selalu laku (terjual), dan itu yang membuat saya semakin yakin bahwa dunia mode adalah jalan hidup saya,” ujar Nita.
Padahal, kedua orangtua Nita yang bekerja di bank menginginkan dirinya mengikuti jejak keluarga untuk berkarier di dunia perbankan. Namun, Nita akhirnya bisa meyakinkan orangtua bahwa pilihan kariernya adalah yang paling sesuai dengan dirinya. Dunia mode juga bisa menjadi gantungan hidup, tidak kalah dibandingkan sektor formal.
Cabang kesenian Jawa
Sejak awal Nita memfokuskan pada desain motif batik. Ia memasukkan cabang-cabang kesenian Jawa dalam motif batiknya, mulai dari wayang, topeng, hingga ornamen warangka (kerangka) keris. Kedekatannya dengan batik dan dunia kesenian Jawa telah melatarbelakangi pilihan motif-motif rancangannya.
Nita mengenal batik dari sang nenek yang sering membatik untuk mengisi waktu senggang seusai menunaikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Neneknya juga memiliki koleksi batik yang relatif banyak. Setiap beberapa bulan sekali, Nita yang waktu itu masih kanak-kanak diajak sang nenek mengeluarkan kain-kain batik dari lemari untuk diangin-anginkan, kemudian dilipat lagi dan disimpan.
”Belakangan kenangan itu membuat saya ingin membuat batik dan menampilkannya ke berbagai penjuru dunia,” kata ibu tiga putra ini.
Adapun dari sang kakek, Nita mengenal tokoh-tokoh dan cerita-cerita wayang kulit. Menjelang tidur, kakeknya selalu mendalang sebagai pengantar tidur si cucu. Masa kecil Nita juga diisi dengan memainkan gamelan dan wayang kulit koleksi sang kakek. Unsur-unsur kesenian Jawa itu kemudian menjadi ciri khas rancangan Nita.
”Saya ingin mengenalkan budaya Indonesia melalui motif-motif (batik) yang kita punya. Kekayaan budaya kita itu sangat banyak, tetapi masih relatif sedikit orang yang tahu,” ujarnya.
Meskipun Nita hidup di dunia ”wangi” jagat mode, penampilan sehari-harinya jauh dari citra glamor. Dia lebih nyaman mengenakan celana jins dan kemeja katun, seperti saat masih menggeluti dunia teater. Penampilan itulah yang menjaga dia untuk tetap dekat dengan komunitas seniman, mbok-mbok penjual sayur di pasar, hingga anak-anak jalanan.
Baginya, dunia ”wangi” tidak akan berarti jika orang di dalamnya tercerabut dari akar budayanya sendiri, apalagi lantas terjebak dalam gemerlap komunitas semu. Oleh karena itulah, Nita memilih konsisten dengan penampilan yang bisa terus mendekatkan dia dengan lingkungan di sekitarnya.
Jiwa sosial Nita pun mengantarnya ke berbagai kegiatan amal. Pascagempa bumi di Yogyakarta (2006), ia bersama sejumlah desainer menggelar lelang amal yang semua hasilnya disumbangkan untuk para korban gempa bumi. Dia juga turut andil dalam Peragaan Busana Tsunami Charity Night di Guangzhou, China, dan Hongkong.
”Yang bisa saya berikan hanya karya-karya saya. Saya berkomitmen untuk mendukung setiap kegiatan amal karena inilah yang membuat kita berarti dalam masyarakat,” ujar perempuan bernama lengkap Sukmawati Nita Lestari ini.
Motif wayang beber
Salah satu karya monumental Nita adalah motif batik wayang beber yang sudah jarang dikenal masyarakat Indonesia. Wayang beber hanya tersisa di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Pacitan, Jawa Timur. Batik bermotif wayang beber itu dipamerkan pertama kali dalam ulang tahun ke-20 Sister City Yogyakarta-Kyoto tanggal 11-20 November 2005.
Busana batik bermotif wayang beber itu dipresentasikan dengan warna-warna alami seperti warna tanah, emas, tembaga, dan panah. Warna-warna alami itu sengaja dia pilih karena bernuansa ”keras”—dalam arti kegigihan untuk mengangkat nama Indonesia, kegigihan desainer Indonesia yang ingin mengangkat potensi bangsa ini ke kancah internasional.
”Pameran saya ke luar negeri selalu batik supaya orang luar (negeri) tertarik dengan Indonesia. Dengan melihat rancangan batik saya, mereka sebenarnya saya ajak untuk mengenal lebih jauh tentang Indonesia. Batik merupakan salah satu media yang bagus untuk mempromosikan Indonesia,” tutur Nita.
Dia menilai batik merupakan kekuatan bangsa Indonesia, tetapi terancam luntur karena kurang diperhatikan. Perajin batik relatif semakin terpinggirkan dan regenerasi perajin batik bisa dikatakan semakin sulit. Kondisi ini yang mendasari Nita untuk terus setia pada batik tulis.
Batik tulis, bagi dia, tak sekadar sebuah karya dengan motif yang dirancangnya sedemikian rupa agar bisa mewujudkan ”kekhasan” Indonesia. Tetapi, Nita juga berharap lewat batik tulis, para perajin batik pun bisa tetap menorehkan cairan malam melalui ujung canting. Ada kesinambungan yang tak terputus di sini.
Nita memaknai batik dengan memasukkannya dalam dunia ”wangi” yang digelutinya. Batik yang mewakili kerajinan tradisional, dan mode yang mewakili industri modern, dia pertemukan menjadi media untuk mengangkat budaya Indonesia.
Melalui tangannya yang lentur, Nita berusaha merancang motif-motif batik yang menebar pesona budaya Indonesia agar semakin diperhitungkan di dunia internasional.

Sumber:  http://nasional.kompas.com/read/2008/12/26/23375334/dunia.batik.tulis.nita.azhar